Natal Membangun Kedamaian dalam Rumah NKRI

NATAL menatap cahaya kemuliaan Tuhan dalam kesederhanaan kandang yang mungil. Kandang memancarkan kesederhanaan Allah hadir yang menyapa anak manusia yang terasing dalam kegersangan jiwa anak negeri.
Anak negeri yang tidak pernah merasakan damai, demi ambisi kuasa mereka berebut kedudukan. Damai itu menjadi hilang ketika para elite sibuk mempercantik diri sekadar menipu rakyat. Mereka hanya beriklan diri. Fakta ini membuat dunia politik menjadi mendung karena politik sekadar jual kata-kata belaka.Dalam kondisi politik seperti inilah wajah masa depan kita dipenuhi politik seolah-olah. Elite politik hanya menyembunyikan realitas sebenarnya.

Rakyat hanya dididik dengan mimpi siang bolong tanpa melihat realitas ekonomi dunia sedang memburuk. Elite politik kehilangan daya nalar untuk memberikan harapan akan damai yang sejati yang bersemi dalam hati sanubari anak bangsa. Rakyat merindukan adanya pemimpin sejati yang memiliki hati terhadap mereka yang menderita karena miskin dan ditindas.

Rakyat merindukan pemimpin yang memiliki nurani untuk berbela rasa terhadap petani yang meradang karena hilangnya pupuk, pedagang makanan yang menangis karena tibatiba gas tidak tersedia lagi. Anak negeri ini sudah putus harapan karena Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai rumah bersama sudah meredup maknanya.

Sebab itu, peristiwa Natal dapat menjadi petunjuk bagi mereka yang rindu untuk hidup dalam damai, khususnya dalam kondisi dewasa ini yang diwarnai ketegangan dan kecenderungan untuk mementingkan diri atau kelompok sendiri. Umat Kristiani memahami dirinya sebagai bagian utuh dari masyarakat dan bangsa Indonesia.

Selama ini kita telah tinggal dalam rumah bersama yang bernama NKRI, dalam kerukunan dan kedamaian. Namun, ada saja kekuatan yang merusak kedamaian itu. Belakangan ini rumah bersama kita dipenuhi dengan berbagai ketegangan, bahkan krisis. Keberadaan NKRI sebagai rumah bersama tidak lagi dipahami dengan baik oleh para warga bangsa. Berbagai benturan antarkelompok dalam masyarakat membuat warga tidak lagi dapat hidup berdampingan secara damai.Berbagai kelompok berusaha menunjukkan kekuatan di hadapan kelompok lain.

Dalam usaha untuk memberi rasa aman kepada seluruh warga negara, pemerintah belum sepenuhnya berhasil mengambil langkah-langkah nyata menuju kebersamaan yang rukun dan damai. Kita merindukan keadaan damai yang memberi rasa aman bagi warga negara, tanpa membedakan suku, agama, ras, dan afiliasi politik. Rasa aman itu membuat warga negara dapat bekerja sama untuk menciptakan kesejahteraan bersama.

Dengan rasa aman itu seluruh warga negara dapat menjalin relasi tanpa merasa terancam, tertekan, atau dikucilkan. Memang banyak usaha positif untuk menciptakan perdamaian telah dilakukan oleh seluruh komponen bangsa.Namun usaha ini belum mencapai hasil yang diharapkan secara maksimal dan masih harus terus dilakukan secara terarah,berencana, dan berkualitas. Rasa aman yang membuat warga negara dapat bekerja sama untuk menciptakan kesejahteraan itulah makna Natal yang terdalam.

***

DALAM suasana Hari Raya Natal, kelahiran Yesus, Sang Raja Damai, seluruh umat Kristiani diajak untuk mendengarkan nasihat Rasul Paulus. Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, Rasul Paulus menasihati jemaat untuk hidup dalam damai dengan semua orang. Dia mengajak jemaatnya supaya menjadi berkat bagi sesama, termasuk orang yang menganiaya mereka (Rm 12:14).

Rasul Paulus menggemakan kembali ajaran Yesus, ”Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membencimu…” (Luk 6:27-28; Mat 5:44).Agar dapat hidup dalam damai dengan sesama, Paulus juga mengajak jemaat supaya tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi melakukan apa yang baik bagi semua orang. Semangat Paus ini harusnya menjadi fondasi semangat umat Kristiani dalam membangun keadaban bangsa dalam mewujudkan gugus insting yang memengaruhi cara berpikir, bertindak, berelasi yang tidak memikirkan kelompok, agama, suku, identitas, dan aliran politik.

Umat Kristiani dipanggil untuk keluar dari egoisme diri sendiri. Umat Kristiani berani untuk menjadi saksi cinta bagi semua manusia yang ada di negeri ini. Panggilan mencintai adalah dasar iman. Tanpa cinta tidak ada iman. Iman tanpa perbuatan adalah sia-sia belaka. Maka, perbuatan menjadi aspek dalam membangun cita rasa bersama untuk menciptakan gereja yang ramah lingkungan dan berbela rasa terhadap mereka yang menderita dan tersingkir.

Semangat yang diajarkan oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Roma itu kiranya juga menjadi semangat umat Kristiani di Indonesia, yang hidup dalam masyarakat majemuk yang terus berubah. Dinafasi oleh makna Natal itu umat Kristiani diajak untuk melibatkan diri secara proaktif dalam berbagai upaya untuk membangun masyarakat yang damai, memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan dalam rumah bersama NKRI ini.

Berbagai persoalan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat perlu dihadapi secara bersama-sama dan diselesaikan dengan cara-cara dialog,ikut mengambil bagian secara sungguh-sungguh dalam usaha-usaha menciptakan persaudaraan sejati di antara anak-anak bangsa dengan membangun kehidupan bersama di komunitas masing-masing,serta peka dan tetap berusaha ramah terhadap lingkungan sekitar.

Natal menjadi momen untuk menyadari bahwa musuh kita bukanlah sesama warga, melainkan kejahatan yang bisa menggerakkan orang untuk melakukan kejahatan dan menyakiti sesama.Kejahatan harus dikalahkan dengan kebaikan dan jangan sampai kebaikan dikalahkan oleh kejahatan. Momentum Natal menjadi titik waktu untuk melakukan kebaikan sebanyak-banyaknya, supaya tidak ada ruang di mana kejahatan dapat merajalela mengalahkan kebaikan.(*)

Rm Benny Susetyo PR
Sekretaris Eksekutif Komisi HAK KWI dan Sekretaris Dewan Nasional Setara