Selanjutnya…
Sidang Urip Datangkan Penyelidik
Selanjutnya…
Tujuh kader PDIP Jatim gabung ke PDP
Selanjutnya…
Agus Condro Akui Terima Uang dari Hamka
Selanjutnya…
Ryan Layak Dihukum Mati
Selanjutnya…
Rekor Indonesia Menikmati Hotspot di Citywalk
Selanjutnya…
Merasa Disingkirkan, DPW PKB Tegaskan Pro Gus Dur
Selanjutnya…
Kejagung Segera Umumkan Nasib Muchdi Pr
Selanjutnya…
Wapres Ubah Kontrak Karya Minyak dan Gas
Selanjutnya…
Wapres: Paskah dan Kaban Pasti Dicopot Kalau Salah
Selanjutnya…
Caleg PKS Deklarasikan Komitmen Kemasyarakatan
Selanjutnya…
Sukowaluyo Tuding Hamka Yandhu Lakukan Sumpah Palsu
Selanjutnya…
Eksekusi Amrozi Cs Bakal Tersalip Rio Martil
Selanjutnya…
Sukowaluyo Juga Bantah Terima Dana BI
Selanjutnya…
Pelarangan Terbang Bikin Kecewa Mandala
Selanjutnya…
Pelarangan Terbang UE Tak Pengaruhi Pendapatan Garuda
Selanjutnya…
Wapres: Para Loper Pahlawan Informasi
Selanjutnya…
Kronologi Penangkapan Imam Samudera
Selanjutnya…
Baju Converse Imam Samudera Mau Dilelang
Selanjutnya…
Indonesia di Tangan Generasi Muda (Sinar Harapan, 28/07/2008)
Oleh Benny Susetyo
Dalam hal kepemimpinan kaum muda, kualitas tokoh politik hanya setingkat dengan stereotip yang dilekatkan kepada pegawai negeri: seadanya, kurang kreatif, ogah berinisiatif, dan gigih menjaga “tradisi” tak bertanggung jawab. Dibandingkan dengan tokoh-tokoh bisnis, tokoh media, tokoh keilmuan, dan tokoh lembaga swadaya masyarakat, mereka jauh ter-tinggal. Begitu disampaikan Kang Sobary di Kompas beberapa waktu yang lalu. Kegelisahan Kang Sobary itu bermakna kompleks. Memahami konteks dan fakta politik kekinian, setidaknya dimulai semenjak masa Reformasi 1998, kita akan mudah membenarkan kritik ini. Walaupun belum dibuktikan secara statistik, atau melalui riset ilmiah dengan data-data valid, kita semua bisa merasakan kondisi ini terjadi dalam berbagai level kehidupan kita. Kaum muda yang berperan demikian besar dalam melakukan perombakan struktur kekuasaan negeri ini, nyatanya tidak sedikit dari mereka yang mengisi reformasi dengan semangat oportunistik, dan malah tak sadar mengembangkan sikap kepolitikan yang dahulu dibenci.
Belum Jelas, Jumlah CPNS Depkeu yang Diterima
Selanjutnya…
IKIP Rawamangun Terbakar
Selanjutnya…
SBY: Ulama Sebaiknya Peduli pada Kelompok Lain
Selanjutnya…
Wapres Pergi, Mela Barbie Langsung Buka Baju
Selanjutnya…
PKS Akan Ajukan Balita Jadi Capres
Selanjutnya…
Dipanggil Bu Guru, Artalyta Sewot
Selanjutnya…
Suap Artalyta Kompensasi Penghentian Penyelidikan BLBI
Selanjutnya…
Anggota KPU Siap Gugat Balik Mochtar Pakpahan
Selanjutnya…
Theo: Golkar Pastikan JK Dapat Posisi Utama
Selanjutnya…
Di Masa Kampanye, Wapres Dzikir Akbar
Selanjutnya…
KPK Geledah Gedung Masaro
Selanjutnya…
Margiono Terpilih Menjadi Ketua PWI
Selanjutnya…
RUU Peradilan Militer Belum Tuntas
Selanjutnya…
Tahun Ini Garuda Terbangkan 107.645 Jamaah Haji
Selanjutnya…
Antasari: Tak Sulit Lacak Aliran Dana BLBI
Selanjutnya…
Egoisme Picu Konflik
Selanjutnya…
Guru Korban UN Terus Mencari Keadilan
Selanjutnya…
Kedudukan Polri Tergantung Keputusan Politik
Selanjutnya…
Kibarkan Bendera Merah Putih di Daerah Perbatasan
Selanjutnya…
Suap dan Matinya Demokrasi (Media Indonesia, 24/07/2008)
KORUPSI, kolusi, dan nepotisme (KKN) hampir mendarah daging dalam berbagai perikehidupan bangsa ini. Tidak mengherankan bila hal yang sama juga terjadi di parlemen, tempat teladan dan pengharapan disemaikan. Suap terjadi sebagai ungkapan gejala venalitas yang semakin merebak. Secara sosiologis, istilah venalitas (venality) menunjuk pada suatu keadaan saat uang bisa digunakan untuk membayar hal-hal yang secara hakiki tidak bisa dibeli dengan uang (Kleden, 2004). Keadilan bisa dipertukarkan dengan uang. Begitu pula dengan pasal-pasal dalam kebijakan. Dalam uang, terdapat faktor ekonomi yang bernama keuntungan.
Wartawan Dilarang Meliput Hajatan Bakrie
Selanjutnya…
Pemberitaan Pers Jangan Buat Konflik Lanjutan
Selanjutnya…
Yusril: Sudah Cukup Tiga Kali Saya Mengalah
Selanjutnya…
Maju Jadi Capres Yuddy Chrisnandy Tak Butuh Restu
Selanjutnya…
Pemulangan TKI Ilegal di Sabah Bukan Dideportasi
Selanjutnya…
Kajari Jakbar Diperiksa Terkait Kaburnya David
Selanjutnya…
Presiden Tak Akan ke Eropa Sebelum Larangan Dicabut
Selanjutnya…
Eksekusi Amrozi cs Tinggal Menunggu Kelengkapan Administrasi
Selanjutnya…
Pemuda Indonesia Dapat Pendidikan Konflik Dari UNDP
Selanjutnya…
PKB Belum Tentu Usung Gus Dur Sebagai Capres
Selanjutnya…
Pemilih Indonesia Cepat Bosan
Selanjutnya…
Yusril: Saya Lebih Suka Satu Kali Saja
Selanjutnya…
Regu Tembak Amrozi Cs Mulai Berlatih
Selanjutnya…
Kalla Tidak Merasa Dijual
Selanjutnya…
Sekolah Tak Peduli Jaminan Hukum Kesehatan Siswa
Selanjutnya…
Yudin, 20 Tahun Menderita Kaki Gajah
Selanjutnya…
Amrozi cs Minta Dihukum Sesuai Syariat Islam
Selanjutnya…
Tersangka Baru PT Pos Ditetapkan Pekan Depan
Selanjutnya…
ICW Berharap Kejagung Tangani Kasus Mercu Suar
Selanjutnya…
Pemilu 2009, Pertarungan Antarkeluarga
Selanjutnya…
Anwar Nasution Ingatkan Hakim Tipikor
Selanjutnya…
Martabat Hukum
MARTABAT hukum semakin lama digerogoti tingkah laku yang membunuh etika. Antikorupsi dan suap terus-menerus diteriakkan, tapi terus dicari cara baru yang lebih rapi dan secara sembunyi-sembunyi untuk mengelabui publik. Dalam sangkaan yang begitu negatif, masih begitu banyak taktik korupsi yang belum terpublikasi. Dugaan kolusi dan suap dalam rekaman yang beredar di masyarakat akhir-akhir ini mungkin hanyalah contoh kecil yang 'bisa' diketahui masyarakat. Bisa jadi, banyak hal serupa tapi tak sama yang tidak diketahui publik. Bila demikian, masihkah ada kesempatan menyelamatkan republik ini dari kehancuran karena hukum yang terlalu sering diperjualbelikan? Dengan cara apa agar masyarakat masih memercayai wajah buruk hukum dan keadilan negeri ini?
Partai Tanpa Rakyat (Suara Pembaruan, 21/7/2008)
Benny Susetyo PrSUHU politik menjelang 2009 mulai menghangat bahkan memanas. Para politisi sudah sibuk berdebat di media, berpolitik, mengatur strategi, serta menyusun rencana dan aksi. Komisi Pemilihan Umum (KPU) juga sudah memutuskan 34 partai politik (parpol) lolos verifikasi untuk mengikuti Pemilihan Umum (Pemilu) 2009. Proses reformasi politik telah melahirkan kebebasan masyarakat untuk mendirikan partai politik. Jumlah partai politik bertebaran, hidup dan mati dengan segenap ketidakjelasan. Ideologi mereka dipertanyakan. Dan tentu, keberpihakan mereka serta rakyat mana yang akan diperjuangkan dalam aspirasinya juga tidak jelas.
BSE Diluncurkan 2 Agustus
Selanjutnya…
Jadi 'Artis' Sejenak, Yusril Numpang Promosi
Selanjutnya…
Akbar Tandjung Cari Partai Tunggangan
Selanjutnya…
Rakyat Harus Diberitahu Program Penanganan Pangan
Selanjutnya…
Laporan KKP Tidak Miliki Kekuatan Hukum
Selanjutnya…
Sesama Pensiunan Jenderal Jangan Saling Jegal
Selanjutnya…
Temuan KKP, Dakwaan Terhadap Wiranto Cs Masih Ada
Selanjutnya…
Temuan KKP Berat Sebelah
Selanjutnya…
Rekomendasi KKP Mengarah ke Reformasi TNI
Selanjutnya…
Wiranto Ajak Berantas Kemiskinan dengan Hati Nurani
Selanjutnya…
Inu Kencana, Hampir di Munirkan
Selanjutnya…
Kalapas Sukun: Sumiarsih Sejak Awal Sudah Pasrah
Selanjutnya…
PKB Muhaimin Sah
Selanjutnya…
Wapres: Pemerintah Tak Jerumuskan Para Jenderal
Selanjutnya…
Wapres Tinjau Gedung Laboratorium Universitas Gorontalo
Selanjutnya…
JK Tak Yakin Wiranto Jadi Ancaman Golkar
Selanjutnya…
Pencopotan Kepala Rutan Polri Terkait Tahanan?
Selanjutnya…
Jalan Panjang Konflik PKB
Selanjutnya…
Hemat Listrik, TV Diminta Batasi Jam Siaran
Selanjutnya…
Sang Pelayan yang Kontroversial
Read More …
Pernah Disekap PKI Gara-Gara Bikin Berita di Koran
Read More …
Kunci Sukses: Cintai Pekerjaan dan Terus Belajar
Read More …
Cinta Mati Dunia Akting Hingga Akhir Hayat
Read More …
Tertarik Ekonomi Gara-gara Baca Majalah Prisma
Read More …
Defisit Demokrasi
DENGAN kebanggaan sering disebut-sebut sebagai salah satu negara demokrasi terbesar di dunia ini, apakah sudah benar makna demokrasi kita dalami dalam berbagai kehidupan kebangsaan kita? Dan mengapa akhir-akhir ini yang kita temui adalah defisit atas makna demokrasi itu sendiri? Jika demokrasi hanya dimaknai sebagai bagaimana kita menyelenggarakan pemilihan umum sukses tanpa konflik, kita telah melaksanakannya. Tapi sejauh mana hal tersebut berimplikasi terhadap kehidupan masyarakat dan negara sehari-hari?
Menulis, Berpihak kepada Rakyat
Di sela-sela kesibukannya sebagai pastor, Romo Benny Susetyo selalu menyempatkan waktu untuk menulis. Kebiasaan ini, menurut dia, sudah berlangsung sejak masih mahasiswa menjadi mahasiswa STFT Widya Sasana di Malang. Tiap hari, kalau ada ide, Benny menulis apa saja. Merespons isu-isu yang berkembang saat itu. ''Menulis itu kan pergumulan. Selama kita masih bergumul dengan berbagai masalah, ya, selalu akan ada tulisan-tulisan saya yang lahir,'' tuturnya.
Ketika Reformasi Jadi "Repotnasi"
SEBELUM Presiden Soeharto lengser pada 21 Mei 1998, Benny Susetyo sangat sibuk berdiskusi, bikin aksi, menulis artikel, serta menggembleng para aktivis muda di berbagai tempat di Jawa Timur. Posisinya sebagai pastor pembantu di Paroki Situbondo merupakan 'nilai tambah' tersendiri. Benny diundang ke mana-mana. Dia makin akrab dengan para tokoh lintas agama, khususnya aktivis muslim dan pemuka Islam. Ketua Pengurus Besar Nahdaltul Ulama (PBNU) KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur pun menjadi 'teman dekat' Romo Benny. Begitu juga KH Hasyim Muzadi, KH Ali Maschan Moesa, KH Said Aqil Siradj hingga Ulil Abshar-Abdalla.
hurek.blogspot.com: Isu Lingkungan Menjelang Paskah 2008
SEBELUM puncak perayaan Paskah, 22 Maret 2008, umat Katolik menjalani Aksi Puasa Pembangunan (APP) selama 40 hari. Tahun ini KWI mengajak umat Katolik di seluruh Indonesia untuk fokus pada lingkungan hidup. Ketika berkhotbah di Gereja Katedral Surabaya, 20-22 Maret, Romo Benny Susetyo juga banyak membahas persoalan lingkungan.
hurek.blogspot.com: Benny Susetyo Pastor Aktivis
TIDAK banyak pastor muda yang melejit secepat Romo Antonius Benny Susetyo Pr. Ditahbiskan pada 1996, kemudian ditempatkan di Situbondo dan Bondowoso dua pekan kemudian, kini Benny Susetyo menjadi staf Konferensi Waligereja Indonesia (KWI). Tepatnya, sekretaris Komisi Hubungan Agama dan Kepercayaan (HAK).
Posisi yang memungkinkan Benny leluasa bergerak ke mana-mana, menembus sekat-sekat agama, kepercayaan, serta latar belakang lainnya. Sebagai pastor kategorial, Benny Susetyo tidak punya paroki. Tidak secara langsung 'menggembalakan domba-domba' layaknya pastor biasa. Dia bisa ke mana-mana, kapan saja, bergerak di seluruh Indonesia. ''Yah, saya mendapat penugasan sebagai pastor kategorial. Saya berusaha melaksanakan itu dengan sebaik-baiknya,'' ujar pria 39 tahun ini saat saya temui di Gereja Katedral Surabaya, Kamis (21/3/2008).
Yang menarik, hampir 10 tahun terakhir Benny Susetyo selalu wara-wiri Surabaya-Jakarta. Saat Natal atau pekan suci Paskah, seperti sekarang, dia senantiasa berada di Surabaya. "Kebetulan saya diminta Romo Eko untuk membantu perayaan ekaristi pekan suci," tuturnya.
Kekerasan dalam Beragama
PROBLEM kehidupan beragama di Indonesia masih cukup banyak dan setiap saat muncul problem yang berbeda-beda. Untuk menjalankan kehidupan beragama secara bersama-sama antarpemeluk dengan semangat toleransi tinggi masih menghadapi tantangan yang tidak kecil. Walaupun wacana pluralisme dan toleransi antar agama ini sudah sering dikemukakan dalam berbagai wacana publik, namun praktiknya tidaklah semudah yang dipikirkan dan dibicarakan. Walaupun sudah terdapat kesadaran bahwa bangsa ini dibangun bukan atas dasar agama, melainkan oleh kekuatan bersama, namun pandangan atas ‘agamaku’, ’keyakinanku’ justru sering menjadi dasar dari berbagai perilaku sehari-hari yang bermuatan kekerasan.